Religius
Belasan tahun menjadi ketua takmir Masjid Al Azhar Salatiga dan aktif di IPHI. Empat anaknya diwajibkan salat berjamaah subuh dan maghrib — dan ditunggu bila belum datang.
Arsip perjalanan · enam bab
Seorang anak lurah desa dari Cebongan yang berakhir di Laut Arafura, di Halim pada dini hari Oktober 1965, di dasar galian sedalam 12,5 meter di Padang Arafah, dan di Schiphol tanpa seragam.
Cebongan · Cirebon · Surabaya
Anak keenam seorang lurah desa, sebuah sepeda onthel, dan formulir pendaftaran yang diisi di sela mengamen di Surabaya.
Mode 3D tidak tersedia di peramban ini. Seluruh isi situs tetap dapat dibaca.
Gulir, klik panel, geser, atau gunakan tombol panah. Gambar pada panel adalah interpretasi editorial, bukan dokumentasi peristiwa.
Siapa dia
Dharsono lahir pada 3 Mei 1939 di Desa Cebongan, Salatiga, anak keenam dari delapan bersaudara. Ayahnya, Prawiro Soemarto, seorang lurah desa. Ia mendaftar tentara pada 1956 bukan karena cita-cita, melainkan karena sebuah perjalanan sepeda yang kehabisan uang di Surabaya.
Selama dua dekade berikutnya ia berada di Riau saat PRRI, di laut ketika Yos Sudarso tidak kembali, di Halim pada 2 Oktober 1965, di Papua menjelang Pepera, di Padang Arafah dengan sekop, dan di Belanda tanpa seragam. Sebagian penugasannya memang dirancang untuk tidak meninggalkan dokumen.
Ia wafat pada 26 November 2023 di Salatiga, sebulan setelah wawancara pertama untuk buku ini selesai dilakukan.
Mengapa hidupnya layak dibaca
Perintah datang kepadanya, bukan darinya. Yang tercatat di sini adalah bagaimana keputusan besar terasa dari posisi orang yang harus menjalankannya: mengempiskan ban pesawat, mendayung perahu karet, menggali tanah gurun.
Beberapa penugasan sengaja tidak dicatat. Karena itu naskah ini menyebut secara terbuka mana yang berasal dari dokumen resmi, mana dari ingatan Dharsono sendiri, dan mana yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Pernikahan 1973 diikuti keberangkatan ke Irian, lalu ke Belanda. Rumah keluarga di Cebongan dirampok ketika ia sedang bertugas. Dua garis itu tidak dipisahkan dalam biografi ini.
Perjalanan
Tiga belas bab naskah, dua epilog, prolog, dan daftar pustaka disusun ulang secara kronologis. Tidak ada bagian sumber yang dipotong.
Kronologi
Tanggal yang tercantum berasal dari dokumen resmi dan wawancara 7–8 Oktober 2023. Bagian yang tidak memiliki tanggal pasti ditandai sebagai perkiraan.
Anak keenam dari delapan bersaudara pasangan Prawiro Soemarto, Lurah Desa Cebongan, dan Muslimah.
Ziarah ke makam Walisongo, sekitar 250 kilometer ke Cirebon. Dari sembilan orang yang berangkat, hanya dua yang sampai Surabaya. Di sana uang habis, dan sebuah formulir pendaftaran tentara ia isi.
Lichting 1957 — angkatan yang di dalam kesatuan dijuluki “anak-anak buangan”.
Operasi terhadap PRRI. Kepulangannya dari Riau berakhir dengan penyergapan di Padang.
Ia berangkat dari Tanjung Priok pada 9 Januari. Enam hari kemudian, di perairan Arafura, Komodor Yos Sudarso — sesama putra Salatiga — tidak kembali.
Lima orang, satu perahu karet, sebuah kompas. Rincian misi ini sebagian masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Bayonetnya dipakai untuk mengempiskan ban pesawat. Sempat terjadi tembak-menembak dengan pasukan sendiri karena seragam yang tidak seragam.
Perintah Pak Benny: sekolah ditunda, sebuah pohon harus ditanam. Enam bulan di Arab Saudi, lalu haji. Satu bibit ia bawa pulang ke Salatiga.
Bersama Karsa Yudha Wibawa, satuan yang dibentuk untuk satu misi. Sidang Dewan Musyawarah Pepera berlangsung disaksikan pengamat PBB.
“73 menikah. Ya 73 itu. Ke Irian. 73 Bapak berangkat lagi. Ke Belanda.” Tiga fakta yang ia ucapkan nyaris tanpa jeda.
Rumah keluarga dirampok ketika ia bertugas. Ia pulang tanpa izin resmi, lalu mengurus pemindahan penugasannya ke Salatiga sebagai Danramil.
Sekitar sepuluh tahun sebelum wafat, ia berulang kali meminta satu hal kepada keluarganya: sebuah sekolah, bukan perusahaan. Yayasan Putra Sandi Yudha berdiri dengan akta notaris pada 2016.
Sebulan setelah wawancara pertama. Ia sempat menyaksikan tujuh tahun pertama SMK Forward Nusantara.
Geografi
Empat belas titik di tiga benua. Setiap baris menuju bagian naskah yang membahasnya.
Dua dunia
Pada 1973, Dharsono berdiri di depan penghulu sebagai bintara senior yang sudah melewati penyergapan di Riau, pendaratan di Irian, gurun Arabia, dan operasi Pepera. Yang ia nikahi adalah seorang gadis dari warung sayuran di seberang asrama Cijantung.
Supriyatin tidak menunggu. Ia menempuh kursus kecantikan dan bekerja sebagai perias pengantin — pekerjaan yang jam kerjanya jatuh pada akhir pekan dan hari bahagia orang lain, dan yang menghasilkan uang di luar gaji militer yang tidak pernah cukup.
Kesaksian keluarga
Dirangkum dari pengantar keluarga yang ditulis Ugung D. A, putra kedua. Ini adalah penilaian keluarga, bukan kesimpulan penulis.
Belasan tahun menjadi ketua takmir Masjid Al Azhar Salatiga dan aktif di IPHI. Empat anaknya diwajibkan salat berjamaah subuh dan maghrib — dan ditunggu bila belum datang.
“Jika beliau bilang tidak boleh, maka itu berarti tidak.” Ketegasan yang sama beberapa kali membuatnya berselisih dengan rekan kerja.
Kepanitiaan dan kepengurusan dijalani sampai dini hari. Anak-anaknya sering ikut serta.
Membaca koran bersama setiap pagi dan sore. Kebiasaan yang menurun ke anak-anaknya.
Sifat yang sudah terlihat pada 1956, ketika tujuh dari sembilan temannya memilih pulang dan ia terus mengayuh.
Arsip
Seluruh koleksi ditempatkan pada bab yang sesuai konteksnya. Foto arsip dibedakan secara visual dari ilustrasi editorial di sepanjang situs ini.




Sesudah seragam
Sekitar 2015, Dharsono mulai berulang kali menyampaikan satu hal kepada keluarganya: dirikan sekolah, bukan perusahaan. Yayasan Putra Sandi Yudha memperoleh akta notaris pada 2016, dan SMK Forward Nusantara lahir di tahun yang sama.
Ia sempat menyaksikan tujuh tahun pertama sekolah itu berjalan.
“Bangga. Rindu. Meskipun takdir telah memisahkan kami.”
Mulai membaca
Situs ini menyajikan naskah biografi keluarga secara utuh: tiga belas bab, prolog, dua epilog, catatan, dan daftar pustaka berisi 62 rujukan. Sumber utamanya adalah wawancara dua hari pada 7–8 Oktober 2023, dokumen resmi milik keluarga, dan 94 foto koleksi keluarga.
Sebagian penugasan Dharsono tidak memiliki dokumen pendamping. Bagian semacam itu ditulis dengan menyebut asal keterangannya — kesaksian keluarga, ingatan Dharsono sendiri, atau dokumen yang tersedia — dan sebagian masih memerlukan verifikasi lebih lanjut sebelum dapat diperlakukan sebagai klaim sejarah definitif.
Ilustrasi bertanda Interpretasi editorial dibuat ulang secara digital untuk menggambarkan suasana. Gambar tersebut bukan dokumentasi peristiwa dan tidak boleh diperlakukan sebagai foto arsip.