Pengantar Keluarga
Keteladan yang Terkenang
Banyak kenangan yang saya alami bersama Bapak. Banyak pula hal yang kemudian menjadi pola didik terhadap saya, kakak, dan adik kandung. Dari sekian kenangan tersebut, ada beberapa hal yang menjadi momen dan catatan bagi saya pribadi.
Pertama, nilai-nilai religiusitas. Sejak kecil, beliau aktif dalam ketakmiran masjid dan juga organisasi IPHI maupun organisasi keagamaan lainnya. Bahkan, belasan tahun beliau menjadi ketua takmir Masjid Al Azhar Salatiga, serta bila sudah bicara tentang masjid, beliau akan total. Kami, empat bersaudara sebagai putra-putri beliau, selalu diminta untuk aktif menjadi pengurus Remaja Masjid Al Azhar dan dipantau betul agar kegiatan-kegiatan jam’iyah dan pengajian-pengajian, terutama di bulan Ramadhan dan setiap hari besar Islam, berjalan dengan baik.
Kami, empat bersaudara, juga diwajibkan sholat berjamaah subuh dan maghrib. Jika tidak hadir di mushala, kami akan ditunggu sampai datang. Kedua, ketegasan. Baik sebagai seorang militer maupun seorang ayah, beliau membuat garis tegas antara boleh dan tidak, serta apa yang diyakini benar. Beliau sering berlaku tegas dalam organisasi maupun kemasyarakatan. Hal ini yang beberapa kali membuat beliau berkonflik dengan pihak-pihak yang berbeda pendapat.
Bahkan, beberapa kali rekan kerja Bapak bercerita bagaimana Bapak sulit diubah pendiriannya bila sudah terkait dengan benar dan salah, sehingga beberapa kali ‘crash’ dengan sesama rekan. Dalam beberapa hal, kami putra-putri beliau sering berbeda pendapat dengan Bapak, dan jika beliau bilang tidak boleh, maka itu berarti tidak.
Ketiga, totalitas dalam tugas. Jika sudah terlibat dalam suatu kegiatan, kepanitiaan, atau kepengurusan, beliau akan bekerja secara total sesuai wewenang dan porsinya. Kami, putra-putrinya, sering diajak untuk terlibat dalam suatu kegiatan, entah itu urusan kantor atau kemasyarakatan yang berakhir sampai malam atau dini hari. Beliau beraktivitas dengan tidak mengenal waktu selama bekerja sebagai militer, dan dari situ saya belajar banyak. Juga, beliau sering bercerita tentang prestasinya sebagai olahragawan dalam berbagai jenis olahraga.
Keempat, pembelajar dan teliti. Setiap pagi dan sore, kami memiliki kebiasaan membaca koran bersama. Koran yang ada terkadang dibagi tiap lembarnya kepada anak-anak. Juga terkait buku, beliau sering mengajak dan menganjurkan kami untuk membaca apa pun; minimal, itulah yang saya alami. Pada masa kecil, hadiah dari beliau jika kami patuh adalah majalah anak-anak. Dalam tugasnya, beliau selalu membawa buku agenda dan mencatat semua kegiatan atau notula. Bila kami sedang membuat tugas atau catatan hingga skrip pidato, beliau selalu mengomentari dan mencermati hingga titik koma. Meskipun begitu, beliau bersama ibu membebaskan kami untuk menentukan arah masa depan masing-masing, terutama ketika kami sudah mantap mengambil keputusan.
Kelima, berpetualang dan mencari tantangan. Di waktu senggang, beliau selalu bercerita tentang petualangannya sebagai tentara di berbagai penugasan, baik di Papua, Timor Timur, Belanda, Arab Saudi, dan tempat-tempat lain di dunia. Cerita penugasan beliau, yang dibenarkan oleh para kolega sesama tentara atau veteran, membuat saya kagum sepenuh hati. Beliau bercerita secara detail tentang semua hal yang menginspirasi kami untuk memiliki pengalaman yang sama. Mungkin, hal inilah yang menjadikan putra-putri beliau memiliki minat yang sama, yaitu traveling.
Saya tidak tahu bagaimana Bapak membimbing masa depan atau karier bagi kakak dan adik saya, tetapi beliau pernah beberapa kali membujuk saya untuk mendaftar ke SMA Taruna Nusantara setelah lulus SMP atau mendaftar menjadi tentara setelah lulus SMA. Entah mengapa, saya kurang tertarik menempuh pendidikan militer atau berkarier di militer, meskipun sangat mengagumi beliau. Tidak ada yang meneruskan jejak beliau berkarier menjadi tentara di antara kami empat bersaudara. Bukan berarti kami tidak tertarik, tetapi tingginya pencapaian Bapak di bidang militer membuat kami memandang profesi tentara dengan penuh hormat dan merasa sulit untuk meraihnya.
Demikian, tanpa mengecilkan banyak tokoh di Indonesia, sesungguhnya apa yang beliau lakukan untuk Indonesia, baik sebagai tentara maupun tokoh masyarakat, sungguh di atas rata-rata. Pengorbanan berada di garis depan pertempuran Republik Indonesia, kiprah di kesatuan yang menaungi, meninggalkan keluarga berbulan-bulan, serta aktif di kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan sungguh menjadi cerita yang layak dibukukan dan dijadikan uswatun hasanah.
Bangga. Rindu. Meskipun takdir telah memisahkan kami.
Kata Pengantar
Menyelamatkan Ingatan Sebelum Terlambat
Sejarah Lisan, Prajurit Tanpa Sorotan, dan Biografi Kapten H. Dharsono
Buku ini lahir dari sebuah kalimat sederhana yang diucapkan Wahyudi Setiawan — putra sulung Kapten H. Dharsono — pada Agustus 2023: "Mumpung ayah saya masih bisa cerita."
Bagi kami kalimat itu menyimpan sesuatu yang lebih besar dari kerinduan seorang anak kepada bapaknya, yakni kesadaran bahwa sejumlah sejarah Indonesia — yang dialami prajurit lapangan berisiko lenyap begitu saja, tanpa sempat dicatat, tanpa sempat diwariskan.
Kapten H. Dharsono berpulang pada 26 November 2023, sebulan setelah wawancara pertama kami selesai dilakukan di Salatiga. Sesudah kabar duka itu, yang tersisa di tangan tim penulis hanyalah rekaman dua hari wawancara, setumpuk dokumen dan foto keluarga, dan kesaksian orang-orang yang pernah mengenalnya — keluarga, rekan seperjuangan, bekas anak buah. Itu saja. Dan dari itu saja, buku ini ditulis.
Buku ini bukan sekadar kronik seorang prajurit. Ia adalah upaya menjaga ingatan kolektif tentang bagaimana sebuah generasi prajurit hidup, bertugas, dan mengabdi kepada negara yang masih mencari bentuknya. Ia adalah argumentasi bahwa sejarah Indonesia tidak lengkap jika hanya ditulis dari perspektif orang-orang yang namanya ada di monumen — dan bahwa prajurit lapangan, seperti Dharsono, yang berjalan dalam kesunyian sejarah jauh dari panggung elite, adalah juga penyangga fondasi kebangsaan yang tidak boleh dilupakan.
Sejarah Lisan: Bukan Pilihan Kedua
Ketika tim penulis memutuskan menjadikan sejarah lisan sebagai pendekatan utama, keputusan itu bukan tanpa alasan metodologis yang kuat. Tradisi sejarah lisan dalam historiografi modern sudah memiliki akar yang dalam, dan argumen-argumen penggunaannya tidak pernah lebih relevan dari ketika yang ingin didokumentasikan adalah pengalaman orang-orang yang tidak meninggalkan jejak tertulis yang signifikan.
Keraguan tentang keabsahan sejarah lisan kerap muncul dari asumsi bahwa dokumen tertulis lebih dapat dipercaya. Asumsi ini, seperti dicatat John Roosa, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid dalam pengantar buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir (2004), sesungguhnya mencerminkan persepsi yang terdistorsi mengenai penelitian sejarah itu sendiri. Orang tidak akan mempertanyakan kebenaran dokumen di Arsip Nasional dengan cara yang sama ketika mempertanyakan kesaksian lisan — padahal setiap sejarawan yang pernah bekerja mendalam dengan arsip tahu betul bahwa dokumen resmi pun penuh dengan bias, kepentingan, dan bagian yang disengaja disembunyikan.1
Yang benar adalah ini: dalam menilai sumber lisan, seseorang harus menggunakan prosedur yang sama persis dengan saat ia menilai dokumen tertulis — memeriksa ulang informasi, menimbang bias pencerita, memeriksa konsistensi internal narasi. Roosa dan kawan-kawan mengingatkan bahwa sumber tulisan sendiri sering didasarkan pada informasi lisan: wawancara, percakapan, kesaksian yang dibakukan. Perbedaannya, sejarah lisan memungkinkan kita kembali berulang kali untuk menguji, menelaah, dan mendengar ulang — sesuatu yang tidak bisa dilakukan terhadap dokumen yang penulisnya sudah wafat.2
Lebih dari sekadar teknik, sejarah lisan adalah posisi epistemologis. Ia menegaskan — seperti ditulis Paul Thompson dalam The Voice of the Past: Oral History (1978) — bahwa sejarah tidak hanya tentang para presiden, jenderal, atau menteri, melainkan juga tentang prajurit lapangan, rakyat biasa, dan pengalaman individual yang membentuk arus besar dari bawah. Dengan memilih metode ini, buku ini sekaligus menempatkan dirinya dalam tradisi historiografi yang menolak narasi tunggal dari atas.3
Sejarah dari Bawah dan Sejarah Militer
Pendekatan "sejarah dari bawah" — istilah yang dipopulerkan oleh sejarawan Inggris E.P. Thompson dalam The Making of the English Working Class (1963) — pada dasarnya adalah penolakan terhadap anggapan bahwa sejarah hanyalah kisah para penguasa dan pemenang. Ia menantang narasi tunggal yang menempatkan elite sebagai poros perubahan, dan membuka ruang untuk melihat bagaimana pergolakan sosial, konflik ideologis, dan transformasi politik juga digerakkan oleh mereka yang berada di lapisan bawah masyarakat.4
Dalam historiografi Indonesia, pendekatan serupa telah lama dikembangkan oleh Sartono Kartodirdjo, yang berpendapat bahwa sejarah bukan hanya milik mereka yang berada di lingkar kekuasaan, tetapi juga milik orang-orang biasa — petani, buruh, perempuan desa, dan prajurit lapangan — yang perannya kerap tersisihkan dari narasi resmi. Buku Pemberontakan Petani Banten 1888 (1984) dan berbagai karya berikutnya memperlihatkan bagaimana dinamika sejarah Indonesia sesungguhnya tidak bisa dipahami tanpa melihat apa yang terjadi di tingkat akar rumput.5
Dalam konteks sejarah militer, pendekatan ini mengingatkan kita bahwa kesuksesan misi-misi besar — pendaratan di Kaimana, pembinaan DMP di Papua, penyergapan di hutan Riau — kerap kali melibatkan kontribusi orang-orang yang bekerja dalam sunyi. Perwira lapangan, bintara, prajurit yang namanya tidak pernah masuk dalam siaran pers atau buku teks sejarah, adalah juga aktor historis. Sejarah militer Indonesia yang ditulis hanya dari perspektif jenderal dan komandan adalah sejarah yang kehilangan sebagian besar substansinya.
Buku Anton Lucas, Peristiwa Tiga Daerah, yang dikutip Roosa dkk., menampilkan gerakan nasionalis Indonesia dengan cara yang sangat berbeda dari studi-studi yang menaruh perhatian pada tokoh-tokoh ternama: ia memperlihatkan dinamika gerakan nasionalis di tingkat akar rumput pantai utara Jawa. Dengan semangat yang sama, buku ini ingin memperlihatkan apa artinya menjadi prajurit komando dalam periode paling genting pembentukan Republik Indonesia — bukan dari jenderal yang memberikan perintah, melainkan dari orang yang melaksanakannya.6
Tentang Narasumber: Keberanian yang Mau Berbicara
Setiap proyek sejarah lisan menghadapi tantangan yang sama: narasumber adalah manusia dengan ingatan yang tidak sempurna, dengan kepentingan yang tidak selalu netral, dan dengan keterbatasan fisik dan kognitif yang makin nyata seiring bertambahnya usia. Kapten Dharsono, ketika kami datang mewawancarainya pada Oktober 2023, sudah berusia delapan puluh empat tahun dan kondisi kesehatannya sudah menurun. Di hari pertama, pertemuan kami hanya menghasilkan fragmen-fragmen memori. Perlahan, suasana mencair. Pada hari kedua, wawancara lebih mengalir.
Roosa dkk. mencatat dalam metodologi mereka bahwa "wawancara lisan itu bukan sekadar memasang mikrofon di hadapan seseorang dan memintanya bercerita." Wawancara yang baik adalah interaksi dua arah, bukan monolog — ia membutuhkan pewawancara yang aktif mengembangkan diskusi, peka terhadap momen-momen ketika narasumber siap berbagi lebih dalam, dan cukup sabar untuk menunggu kepercayaan berkembang.7 Prinsip itu kami pegang sepanjang dua hari di Salatiga, dan hasilnya bisa pembaca rasakan dalam setiap kutipan langsung yang tersebar di seluruh buku ini.
Namun kami juga mengakui batas-batas pendekatan ini dengan jujur. Sebagian cerita dalam buku ini tidak dapat sepenuhnya diverifikasi dengan dokumen tertulis karena operasi-operasi yang dilakukan Dharsono — pendaratan kapal selam di Irian Barat, penugasan intelijen di Belanda — memang dirancang untuk tidak meninggalkan jejak yang bisa ditemukan. Dalam kasus-kasus seperti ini, kami melakukan triangulasi: mencocokkan kesaksian Dharsono dengan keterangan keluarga, dengan kesaksian rekan-rekan yang masih hidup, dan dengan sumber-sumber akademik yang mendokumentasikan konteks operasional yang relevan.
Satu hal yang tidak bisa kami ragukan adalah keberanian narasumber untuk berbicara. Dharsono, yang seluruh karier militernya berlangsung dalam kerangka kerahasiaan operasional, memilih untuk bercerita kepada kami — tidak semuanya, tidak dengan cara yang dramatik, tetapi cukup untuk memberi kami substansi yang tidak bisa diperoleh dari dokumen manapun. Roosa dkk. mencatat bahwa korban dan saksi yang mau berbicara adalah "orang-orang yang masih beruntung" — mereka yang selamat dan tetap mampu bercerita. Dharsono termasuk dalam kelompok itu, dan pengabdian kami kepada kejujuran adalah cara kami menghormati keberaniannya.8
Tentang Buku Ini: Apa yang Ada dan Apa yang Tidak
Buku ini ditulis dengan keyakinan bahwa biografi yang baik bukan hanya mendokumentasikan apa yang seseorang lakukan, tetapi juga menempatkannya dalam konteks sejarah yang memberinya makna. Setiap bab dalam buku ini karena itu dirancang dengan dua lapisan sekaligus: narasi personal tentang Dharsono, dan konteks historis yang menjadikan pengalaman pribadinya dapat dipahami sebagai bagian dari narasi yang lebih besar — tentang Indonesia yang sedang berjuang menemukan bentuk dirinya.
Kapten H. Dharsono adalah anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) — satuan elite yang sejak 1952 hingga kini, dalam berbagai nama dan transformasi, menjadi ujung tombak operasi-operasi paling kritis Angkatan Darat Indonesia. Dalam kariernya yang merentang dari 1957 hingga akhir 1970-an, ia melintasi hampir semua babak penting pembentukan Indonesia modern: penumpasan PRRI-Permesta di Riau dan Manado, Operasi Trikora dan pendaratan kapal selam di Irian Barat, Operasi Lumba-Lumba, G30S di Halim Perdanakusuma, Operasi Pepera di Papua, penugasan di Arab Saudi, dan tiga tahun di Eropa menghadapi dinamika diaspora Maluku. Tidak sebagai penonton. Tidak sebagai komandan yang memerintahkan. Melainkan sebagai orang yang ada di sana, yang tubuhnya hadir di tempat-tempat yang oleh sejarawan kemudian hanya diberi nama dan tanggal.
Apa yang tidak ada dalam buku ini adalah klaim bahwa ini adalah sejarah yang lengkap. Tidak ada sejarah yang lengkap. Sejarah, seperti diingatkan Roosa dkk., tidak terarah pada "Kebenaran" dengan huruf kapital, melainkan pada "banyak kebenaran" yang saling melengkapi, memperbaiki, dan kadang-kadang bertentangan.9 Buku ini adalah satu dari banyak kebenaran itu — kebenaran yang dilihat dari dek KRI Harimau pada malam 15 Januari 1962, dari dalam kapal selam yang mendekati pantai Kaimana, dari lubang galian di padang pasir Arafah, dan dari kursi tamu di halaman belakang rumah Salatiga.
Kehilangan yang Tidak Bisa Ditunda
"Mumpung ayah saya masih bisa cerita" — kalimat itulah yang mendorong proyek ini. Dan kalimat itu mengandung sebuah kebenaran yang berlaku untuk seluruh generasi yang semakin tua: setiap prajurit, setiap saksi, setiap orang yang pernah menghidupi sejarah dari dalam, membawa pengetahuan yang tidak ada di tempat lain. Ketika mereka pergi, pengetahuan itu pergi bersama mereka — kecuali jika ada yang cukup peduli untuk datang dan mendengarkan sebelum terlambat.
Dari ratusan kilometer rute bersepeda yang ditempuh sembilan pemuda Salatiga menuju Cirebon, Surabaya, dan Imogiri pada 1956, hingga momen terakhir di halaman belakang rumah Salatiga tempat pohon mindi dari Arabia tumbuh tenang — buku ini adalah upaya untuk tidak membiarkan perjalanan itu lenyap tanpa jejak. Bukan karena Dharsono adalah pahlawan tanpa cela. Melainkan karena ia adalah manusia yang hidup di tengah sejarah yang tidak memberikan pilihan-pilihan yang mudah, dan yang dari hari ke hari membuat keputusan terbaik yang bisa ia buat dengan nilai-nilai yang ia pegang.
Seperti pohon mindi yang dideskripsikan ahli botani sebagai spesies yang bisa bertahan di tanah berbatu dan iklim keras — namun hanya jika ada cukup usaha manusia untuk mempersiapkan mediumnya — sejarah yang baik juga membutuhkan usaha yang tidak kecil untuk dipersiapkan. Buku ini adalah usaha itu.
Ucapan Terima Kasih
Buku ini tidak akan ada tanpa Wahyudi Setiawan (Mas Aan) dan seluruh keluarga Kapten H. Dharsono di Salatiga — khususnya Ibu Sri Supriyatin, istri almarhum, yang dengan sabar menerima kami dan membuka pintu rumah serta pintu ingatan. Kepada Djunaedi, adik bungsu almarhum, yang kesaksiannya tentang masa kecil di Cebongan menjadi tulang punggung bab-bab awal buku ini. Kepada para rekan dan bekas anak buah almarhum — W. Sukiman, Sarono Tuwuh, Pak Joko, Pak Makun — yang memberikan perspektif tentang Dharsono sebagai pelatih dan pemimpin yang tidak bisa diperoleh dari sumber lain.
Kepada Mas Wakhib yang mendokumentasikan wawancara dengan teliti; Mbak Endang Semarang yang menjadi titik singgah penting; Mas Imam Kosasih yang mengurus tata letak dengan kesabaran yang melampaui tugasnya. Kepada semua yang tidak disebut namanya di sini tetapi yang kontribusinya terasa di setiap halaman.
Segala kekurangan dalam buku ini — dalam verifikasi fakta, dalam kelengkapan narasi, dalam klaim-klaim yang mungkin dapat diperdebatkan — sepenuhnya adalah tanggung jawab tim penulis.
Tim Penulis
Depok, Mei 2026
Prolog
Laut Aru, 15 Januari 1962
Pukul 21.00 WITA
Di atas dek KRI Harimau yang bergetar karena mesin yang dipaksa bekerja pada kecepatan tertinggi, seorang prajurit baret merah berusia dua puluh dua tahun menatap kegelapan di sekelilingnya dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Laut Aru pada pukul sembilan malam adalah satu warna: hitam. Langit dan laut menyatu di cakrawala yang tidak bisa dibedakan, dan di antara keduanya, di suatu tempat yang tidak terlihat, ada dua kapal perang Belanda yang sedang melakukan hal yang sama: mencari.
Namanya Dharsono. Pangkatnya Prajurit Pertama. Ia berasal dari Cebongan, desa kecil di kaki Gunung Merbabu, Salatiga — 2.400 kilometer dari laut yang kini menggoyangkan kakinya. Lima tahun sebelumnya ia tidak tahu apa itu RPKAD, tidak tahu apa itu kapal MTB, tidak tahu apa itu Laut Aru. Lima tahun yang lalu ia masih bersepeda onthel menyusuri jalan Pantai Utara Jawa bersama delapan orang teman yang satu per satu pulang ketika kelelahan, sementara ia terus. Sekarang ia ada di sini. Dan di kapal yang bergerak paralel, seratus meter di sisinya, ada Komodor Yosaphat Sudarso — Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Republik Indonesia, putra Salatiga yang lahir empat belas tahun sebelum Dharsono di kota yang sama — yang sedang mengambil sebuah keputusan.
Keputusan itu belum dibuat. Tetapi dalam tiga puluh menit ke depan, sejarah akan mencatatnya. Operasi ini seharusnya tidak terjadi dengan cara seperti ini.
Empat kapal Motor Torpedo Boat tipe Jaguar — KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, KRI Harimau, KRI Singa — berangkat dari Tanjung Priok pada 9 Januari 1962 dengan misi infiltrasi ke pantai Kaimana, Irian Barat. Misi resmi: mendaratkan pasukan dan personel intelijen untuk mempersiapkan kondisi lapangan sebelum proses diplomatik menghasilkan pengalihan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia. Misi yang tidak tertulis: menunjukkan kepada Belanda, dan kepada dunia, bahwa Indonesia serius — bahwa Tri Komando Rakyat yang dikumandangkan Sukarno di Yogyakarta pada 19 Desember 1961 bukan sekadar retorika.
KRI Singa tidak pernah sampai ke Laut Aru. Ia kehabisan bahan bakar di Kepulauan Kei dan terpaksa kembali ke pangkalan. Yang tersisa tinggal tiga kapal. Tiga kapal kecil dengan senjata utama meriam 40mm — tanpa torpedo, karena Belanda berhasil melobi Jerman Barat agar tidak menyertakan torpedo dalam penjualan — menghadapi Laut Aru yang patroli udaranya dilakukan oleh pesawat Neptune AL Belanda setiap beberapa jam.
Pukul 17.00, ketiga kapal meninggalkan posisi menunggu dan bergerak menuju Kaimana. Mereka menempuh rute yang sudah direncanakan: haluan 239 derajat, kecepatan maksimum yang bisa dicapai mesin-mesin yang sudah empat hari bekerja keras.
Empat jam kemudian, pesawat Neptune mendeteksi mereka.
Di atas dek KRI Harimau, Dharsono merasakan perubahan sebelum mendengarnya: getaran mesin yang makin kencang, sudut kapal yang berubah karena manuver mendadak, dan kemudian — cahaya. Peluru suar yang dilontarkan dari arah yang tidak terduga menerangi permukaan laut dengan cahaya putih yang menyakitkan mata. Dalam cahaya itu, untuk pertama kalinya malam itu, Dharsono bisa melihat: KRI Macan Tutul dan KRI Macan Kumbang bergerak seratus, dua ratus meter di sisinya. Dan jauh di sebelah sana, siluet fregat Hr Ms Eversten dan korvet Hr Ms Kortenaer yang jauh lebih besar, jauh lebih bersenjata.
Kapal-kapal Belanda itu bukan sekadar lebih besar. Mereka adalah produk dari industri pertahanan Eropa yang pada 1962 sudah melampaui kapal-kapal Indonesia dalam hampir setiap parameter yang bisa diukur: jangkauan senjata, tebal lambung, sistem navigasi, kecepatan tertinggi. KRI Harimau dan kedua rekannya adalah kapal torpedo yang tidak membawa torpedo. KRI Harimau dan kedua rekannya adalah kapal cepat yang kini dihadang oleh kapal yang lebih cepat.
Tembakan pertama dilepaskan. Bukan dari Belanda — dari KRI Macan Tutul dan KRI Macan Kumbang, meriam 40mm membalas suar dengan peluru nyata. Di atas dek KRI Harimau, dalam cahaya suar yang berkedip-kedip, Dharsono melihat sesuatu yang akan ia ingat selama sisa hidupnya: api kecil di sisi KRI Macan Tutul, yang kemudian bukan kecil lagi.
Di KRI Macan Tutul, sebelum peluru Belanda mengenai kamar penyimpanan mesiu, Komodor Yosaphat Sudarso telah mengambil keputusannya.
Ia berpindah dari kapal komando ke KRI Macan Tutul — langkah yang tidak ada dalam manual operasional manapun karena tidak ada manual yang ditulis untuk situasi seperti ini. Ia memerintahkan KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang untuk melakukan manuver menghindar: berputar, jauhkan diri, selamatkan diri. Ia sendiri, di atas kapal kecil yang tidak membawa torpedo, menghadapi dua kapal perang dari angkatan laut yang pernah menguasai Indonesia selama tiga setengah abad.
Di antara satu tembakan dan tembakan berikutnya, ia sempat mengirimkan pesan terakhir. Empat kata yang kemudian menjadi epigraf untuk satu generasi perwira TNI: "Kobarkan semangat pertempuran."
KRI Macan Tutul terkena. Meledak. Tenggelam.
Yosaphat Sudarso, putra Salatiga, gugur di Laut Aru pada usia tiga puluh enam tahun.
KRI Harimau berhasil meloloskan diri.
Di atas dek kapal itu, seorang prajurit dua puluh tiga tahun dari Cebongan berdiri dalam kegelapan yang kini kembali turun setelah suar-suar padam. Di suatu tempat di belakangnya, di laut yang sudah tidak bisa dilihat, ada kapal yang tenggelam. Ada seorang komodor yang tidak kembali. Ada prajurit-prajurit lain yang tidak kembali.
Dan ada pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab dengan memuaskan oleh siapapun yang ada di KRI Harimau malam itu: mengapa yang ini selamat dan yang itu tidak?
Dharsono tidak tahu jawabannya. Ia tidak akan pernah tahu. Yang ia tahu hanyalah bahwa kapalnya masih bergerak, mesin masih berputar, dan di suatu tempat ke arah barat laut, masih ada tanah yang harus ia injak lagi. Ia selamat bukan karena ia lebih berani, bukan karena ia lebih terlatih, bukan karena keberuntungan yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia selamat karena malam itu keputusan satu orang di kapal lain mengarahkan dua peluru menuju dirinya — dan peluru-peluru itu memilih kapal yang berbeda.
Dalam wawancara yang dilakukan tim penulis enam puluh satu tahun kemudian, di halaman belakang rumahnya di Salatiga tempat pohon mindi dari Arafah tumbuh tenang, Dharsono menceritakan malam itu dengan cara yang khas: singkat, faktual, tanpa dramatisasi. Kata-katanya tentang kematian selalu seperti itu — seolah dramatisasi adalah ketidakadilan tersendiri terhadap orang-orang yang mati, karena orang yang mati tidak bisa mengoreksi cerita tentang kematiannya.
Tetapi ada satu hal yang ia katakan, hampir dalam sela napas di antara dua topik lain, yang menggambarkan segalanya: "Nah di istana baru dikalongkan Bintang Saktinya." Kalimat itu diucapkan bukan sebagai klimaks, bukan sebagai puncak cerita — melainkan sebagai urutan kejadian yang wajar: setelah selamat, setelah ke Surabaya, setelah ke Jakarta, setelah ke Istana. Seperti itulah cara seorang prajurit menceritakan hidupnya: bukan dari momen ke momen dramatis, melainkan dari tugas ke tugas berikutnya. Seperti itulah cara Dharsono menjalani hidupnya selama tujuh dekade: bergerak terus, ke titik berikutnya, sambil membawa beban yang tidak pernah ia ceritakan dengan kata-kata yang lebih besar dari yang diperlukan.
Buku ini adalah upaya untuk mendengarkan kata-kata yang lebih besar itu — bukan karena Dharsono tidak cukup berani mengucapkannya, tetapi karena sejarah tidak boleh hanya tersimpan dalam kerendahan hati seorang prajurit tua di halaman belakang rumah di Salatiga.
Ini adalah kisahnya.
Catatan tentang Prolog ini
Rekonstruksi Pertempuran Laut Aru dalam prolog ini didasarkan pada: (1) transkripsi wawancara Kapten H. Dharsono dengan tim penulis, 7–8 Oktober 2023, Salatiga; (2) Oemar, Yos Sudarso: Pahlawan dari Laut Aru (Jakarta: Sinar Harapan, 1981); (3) kesaksian Sersan Kepala (Purn) Nyoman Toya dalam "Dikira Gugur Bersama Yos Sudarso," Majalah Intisari, November 1993; (4) catatan wawancara Kolonel Laut Drs. Heri Sutrisno, Disjarah TNI AL; dan (5) Bradley Simpson, Economists with Guns (Stanford: Stanford University Press, 2008), hlm. 62–81.
Bab 1
Salatiga
Sebuah kota kecil, berlapis sejarah, membentuk watak seorang anak sebelum ia mengenal seragam.
Di lereng timur Gunung Merbabu, pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut, berdiri sebuah kota kecil yang selama berabad-abad menyimpan lebih banyak sejarah dari yang tampak di permukaannya. Salatiga—kota yang orang Belanda sebut als de mooiste stad van Midden-Java, kota terindah di Jawa Tengah—adalah tempat di mana rute-rute perdagangan, kekuasaan militer, dan kehidupan sehari-hari rakyat biasa bersilangan dalam satu titik yang tidak pernah sunyi dari tegangan sejarah.
Jaraknya hanya 40 kilometer dari Semarang ke arah selatan, namun jarak itu terasa jauh ketika orang merasakannya sendiri: udara yang turun beberapa derajat begitu jalan mulai menanjak, kebun-kebun kopi dan cengkih yang mengapit tebing, dan langit yang cenderung lebih rendah, lebih abu-abu, lebih dingin. Salatiga bukan kota yang bisa didefinisikan semata oleh geografi. Ia adalah produk dari keputusan-keputusan politik dan militer yang berlapis-lapis, dari VOC abad ke-18 hingga republik yang masih mencari bentuknya di abad ke-20.
Perjanjian yang Membelah Mataram
Jauh sebelum garnisun pertama Belanda berdiri di sini, Salatiga sudah menjadi saksi pergulatan kekuasaan yang mengubah peta politik Jawa secara permanen. Pada tahun 1757, di kota inilah Perjanjian Salatiga ditandatangani—sebuah kesepakatan yang mengakhiri Perang Suksesi Jawa III (1746–1757) dan membelah Kerajaan Mataram Islam menjadi tiga entitas terpisah: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran yang baru lahir.
Pangeran Mangkubumi, kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta, dan Raden Mas Said—keponakan yang telah memimpin perlawanan selama lebih dari satu dekade—bersama Sunan Pakubuwono III, menundukkan kepala di hadapan mediasi VOC. Bagi mereka yang hadir, perjanjian itu mungkin terasa seperti kompromi yang dipaksakan. Bagi sejarawan yang datang kemudian, ia adalah tonggak: saat pertama kalinya Belanda berhasil menggunakan diplomasi dan ancaman militer untuk mendudukkan raja-raja Jawa di meja perundingan dan mengatur ulang tata politik pulau itu sesuai kepentingan mereka.1
Salatiga tidak dipilih secara kebetulan sebagai lokasi penandatanganan. Kota ini berada di persimpangan jalur utama yang menghubungkan Semarang di pesisir utara dengan Surakarta dan Yogyakarta di pedalaman—sebuah posisi strategis yang membuatnya selalu relevan dalam setiap kalkulasi militer dan politik, dari masa VOC hingga Republik Indonesia.
Fort de Hersteller dan Lahirnya Kota Garnisun
Fondasi militer Salatiga diletakkan oleh Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem van Imhoff pada 1746, beberapa tahun setelah Geger Pacinan (1740–1743)—pemberontakan besar etnis Tionghoa di Batavia yang diselingi pembantaian massal oleh pasukan VOC dan diikuti gejolak di seluruh Jawa. Untuk memastikan jalur tengah Jawa tidak kembali bergolak, Van Imhoff memimpin ekspedisi militer dari Semarang ke pedalaman, mendirikan benteng pertahanan di beberapa titik strategis. Salah satunya adalah Fort de Hersteller di Salatiga—sebuah nama yang dalam bahasa Belanda berarti "sang pemulih," seolah memberi isyarat fungsi politisnya: memulihkan ketertiban yang dirasa goyah.2
Keberadaan benteng itu segera mengubah wajah Salatiga. Di sekeliling dan di bawah bayangan Fort de Hersteller, tumbuh pemukiman untuk prajurit, administratur kolonial, dan pedagang—terutama kelompok peranakan Tionghoa yang berfungsi sebagai penyedia logistik bagi garnisun. Salatiga menjadi apa yang dalam tata kota kolonial Belanda disebut garnizoensstad: kota yang eksistensinya ditentukan oleh kehadiran militer.
Benteng itu sendiri sempat diabadikan oleh setidaknya dua seniman Eropa. Litograf Joseph Jeakes, perupa Inggris awal abad ke-19, menggambarkan Fort de Hersteller sebagai bangunan kokoh dengan menara pengawas yang menjulang, lapangan hijau luas di depannya, dan latar belakang Gunung Telomoyo yang seperti dinding raksasa di barat daya kota. Beberapa dekade sebelumnya, Johannes Rach—seniman Denmark yang banyak merekam lanskap Hindia Belanda—juga meninggalkan jejak visual dari kota ini. Keduanya merekam sesuatu yang kemudian lenyap: pada 1849, Belanda menghancurkan benteng itu sendiri setelah dianggap tidak lagi layak dan tidak strategis.
Kini, lokasi Fort de Hersteller—yang juga pernah menjadi Hotel Berg en Dal—menjadi kawasan Satlantas Polres Salatiga, dan hanya sedikit yang ingat bahwa di sana pernah berdiri bangunan yang pernah dianggap pilar ketertiban kolonial di Jawa Tengah.3
Salatiga Berhias: Kota Peristirahatan Eropa
Pada 1 Juli 1917, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda meresmikan Salatiga sebagai Stadsgemeente Solotigo—status kotamadya yang memberi Salatiga otonomi administratif dan sekaligus mengangkat citranya. Kota ini tumbuh menjadi tempat peristirahatan favorit orang-orang Eropa yang bekerja di perkebunan-perkebunan besar di lereng Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Angin sejuk, pemandangan gunung, dan jarak yang tidak terlalu jauh dari Semarang menjadikan Salatiga semacam hill station versi Jawa—berbeda dalam skala dari Puncak atau Batu, namun memenuhi fungsi yang sama: tempat melarikan diri dari panas dan kesibukan kota pelabuhan.
Kota ini merawat penampilannya dengan teliti. Jalan Diponegoro dan Jalan Sudirman—yang bertemu di Bunderan Tamansari—diapit rumah-rumah bergaya Eropa awal abad ke-20 yang balkonnya menghadap deretan pohon asam jawa. Di ujung Jalan Sudirman berdiri GPIB Tamansari, gereja yang mulai dibangun pada 1823 dan diresmikan 16 April 1824: jendela-jendela gotiknya, menara lonceng yang menjulang, dan bangku-bangku kayu yang sebagian sudah diganti replika memberikan kesan bahwa waktu bergerak lebih lambat di sini. Berseberangan dengan gereja, dua rumah megah pertengahan abad ke-19—satu berpilar besi tempa, satu berpilar putih bergaya Tuskan—yang dulunya kediaman asisten residen, kini menjadi kompleks rumah dinas walikota.
Pada 1997, di teras salah satu rumah itu, Duta Besar Prancis meresmikan sebuah prasasti kecil yang mengenang singgahnya penyair Arthur Rimbaud di Salatiga. Rimbaud—salah satu penyair terbesar Prancis, pengarang Une Saison en Enfer, pelancong keras yang menjelajahi tiga benua—mendaftarkan diri sebagai serdadu Hindia Belanda di Batavia, berlayar bersama batalyon infanterinya ke Semarang, lalu berjalan kaki ke tangsi Salatiga dari stasiun Tuntang.
Ia tiba sekitar 2 Agustus 1876 dan menghilang dari catatan dinas hanya dua minggu kemudian—dilaporkan desersi saat apel, entah bagaimana berhasil keluar dari cengkeraman militer, dan kembali ke Roche, Prancis, tanpa meninggalkan keterangan. Yang ia tinggalkan hanya tanda tangan di dokumen pendaftaran dan satu prasasti kecil di kota yang mungkin tidak pernah ia ingat sebagai tempat yang istimewa.4
Kota yang Membentuk Prajurit
Namun Salatiga bukan hanya kota cantik yang memanjakan orang-orang Eropa. Ia juga merupakan kota yang, sepanjang masa kolonial dan revolusi kemerdekaan, tidak pernah lepas dari kehadiran senjata. Monumen Pancasila yang berdiri tegak di tengah kota mengabadikan tiga nama yang menunjukkan betapa dekatnya Salatiga dengan denyut militer republik yang baru lahir: Letkol S. Sudiarso, yang gugur menumpas RMS di Ambon (1950); Komodor Yos Sudarso, yang tenggelam bersama KRI Macan Tutul dalam Pertempuran Laut Aru (1962) saat berjuang merebut Irian Barat; dan Komodor Udara Adisutjipto, yang pesawat Dakota VTCLA-nya ditembak jatuh Belanda pada 29 Juli 1947 saat membawa obat-obatan dari India—hari yang kini diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU.5
Tiga nama itu bukan sekadar prasasti. Bagi generasi anak-anak Salatiga yang tumbuh di bawah bayang-bayangnya, monumen itu adalah representasi fisik dari pertanyaan yang selalu menggantung: apa artinya mengabdi kepada negara? Jawaban atas pertanyaan itu, bagi Dharsono, tidak datang sekaligus. Ia datang perlahan, melalui jalan yang berliku—melewati ziarah wali, amplop misterius di Surabaya, dan desakan hati yang pada akhirnya tidak bisa ia abaikan.
Di tubuh Kapten Dharsono, tangsi kolonial itu menjelma menjadi semangat republik. Kota yang pernah menjadi instrumen kekuasaan asing menjadi tanah yang melahirkan prajurit yang mempertaruhkan nyawa untuk membebaskan Indonesia dari kekuasaan asing itu sendiri. Itulah ironi Salatiga—dan itulah, dalam banyak hal, ironi Indonesia.
Bab 2
Jejak Langkah
Dari Cebongan, langkah pertama Dharsono bermula tanpa pertanda bahwa sejarah sedang menunggunya.
Pada 3 Mei 1939, di Desa Cebongan yang berdiam tenang di kaki Gunung Merbabu, lahirlah anak keenam dari delapan bersaudara pasangan Prawiro Soemarto dan Muslimah. Mereka memberinya nama Dharsono—satu kata yang sederhana, tanpa gelar bangsawan, tanpa embel-embel yang menunjukkan ambisi. Tidak ada yang tahu, termasuk mungkin orang tuanya sendiri, bahwa nama itu suatu hari akan terukir dalam sejarah militer Indonesia.
Cebongan bukan sekadar desa biasa. Ia terletak di jalur strategis yang sejak abad ke-19 menghubungkan Semarang di pesisir utara dengan Surakarta di pedalaman—koridor utama pergerakan logistik, administrasi, dan militer Belanda di Jawa Tengah. Patroli-patroli kolonial melintas secara rutin, bukan semata untuk mengamankan lalu lintas ekonomi, tetapi juga untuk memastikan stabilitas politik di tengah nasionalisme yang mulai tumbuh sejak Kebangkitan Nasional 1908. Dalam lanskap seperti inilah Dharsono kecil membuka matanya terhadap dunia.1
Keluarga Priyayi Desa
Ayahnya, Prawiro Soemarto, menjabat sebagai Lurah Desa Cebongan—jabatan yang dalam struktur pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebut hoofd van het dorp atau kepala desa, dan memainkan peran strategis sebagai perantara antara otoritas kolonial dengan masyarakat desa.
Seperti yang dijelaskan Robert van Niel dalam Munculnya Elite Modern Indonesia, para pejabat bumiputera di tingkat lokal seperti lurah merupakan bagian dari native bureaucracy yang menjalankan sistem indirect rule Belanda—bertugas memungut pajak, mengorganisir kerja wajib, dan menjaga ketertiban sosial, namun seringkali juga menjadi pelindung warga dari ekses-ekses paling kasar dari kekuasaan kolonial.2
Prawiro Soemarto adalah contoh lurah yang disegani bukan hanya karena jabatannya, tetapi juga karena karakternya. Pintu rumahnya selalu terbuka. Tidak ada pembatas sosial yang ia bangun antara dirinya dan warga Cebongan, tidak ada jarak yang sengaja ia jaga untuk menunjukkan bahwa ia satu tingkat di atas mereka. Ini sesuatu yang disengaja, dan ia wariskan kepada anak-anaknya.
Dalam banyak hal, keluarga Prawiro Soemarto mencerminkan sosok priyayi desa sebagaimana digambarkan Clifford Geertz dalam Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa di mana kelas elite birokratik lokal yang tidak hanya memiliki akses pada struktur pemerintahan kolonial, tetapi juga mengemban fungsi simbolik dan moral di tengah masyarakat desa Jawa. Seperti figur lurah dalam studi Geertz di Mojokuto, Prawiro adalah penghubung administratif sekaligus tokoh yang dihormati karena kharisma spiritualnya, tutur kata yang halus, dan perannya dalam menjaga harmoni adat desa.3
"Eyang kakung saya sering diminta masyarakat untuk menentukan tanggal perayaan hari-hari penting. Begitu pula dalam lingkungan keluarga kami—setiap kali akan menggelar hajat, selalu mempertimbangkan weton dan perimbon Jawa," kenang Wahyudi Setiawan, putra Kapten Dharsono yang menyaksikan sisa-sisa tradisi itu masih hidup di masa kecilnya.
Foto
Muslimah, ibu Dharsono, adalah sisi lain dari fondasi itu. Bukan seorang yang tampil di muka, bukan pula seseorang yang banyak bicara tentang prinsip-prinsipnya, tetapi kehadirannya terasa dalam setiap sudut rumah dan setiap keputusan anak-anaknya. Ia adalah figur yang dalam memori keluarga digambarkan sebagai perempuan Jawa yang tak goyah di masa-masa sulit—seseorang yang kasih sayangnya tidak pernah berubah menjadi kelembutan yang memanjakan, melainkan tetap mengandung ketegasan seorang ibu yang tahu apa yang ia inginkan dari anak-anaknya.
“Dia itu sangat patuh pada ibu. Apa yang diucapkan ibu tidak pernah ditolak. Bahkan Pakde Goen juga begitu, sangat menghormati ibu.”— Djunaedi, adik bungsu Kapten Dharsono, wawancara 7–8 Oktober 2023
Anak Desa yang Tak Kenal Batas
Masa kecil Dharsono dihabiskan dengan cara yang mungkin tidak asing bagi jutaan anak desa Jawa di era yang sama: berlarian di pematang sawah, bermain di lapangan tanah yang keras di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan, dan menjalani ritme hidup yang diatur oleh jam sekolah pagi dan kewajiban membantu keluarga di sore hari. Namun ada sesuatu yang membedakannya dari anak-anak lain—sesuatu yang tidak segera terlihat sebagai bakat, melainkan lebih menyerupai sebuah temperamen.
"Kami sangat akrab dengan anak-anak di Desa Cebongan, bergaul biasa tidak ada bedanya dengan anak-anak lainnya," kenang Djunaedi, adik bungsunya.4
Namun dalam kenangan yang sama, Djunaedi selalu menyebut satu hal lagi: "Pak Dhar sejak di SR sudah pemberani, suka berkelahi demi membela teman."
Bukan kekerasan yang mencari masalah. Bukan agresi yang muncul dari ketidakamanan. Apa yang Dharsono tunjukkan sejak kecil adalah sesuatu yang lebih spesifik: ketidakmampuan untuk membiarkan ketidakadilan berlangsung di depan matanya tanpa berbuat sesuatu. Ketika ada teman yang diganggu, ia turun tangan. Ketika ada yang diperlakukan sewenang-wenang, ia bergerak.
Salah satu insiden yang paling dikenang keluarga adalah tentang Untung, seorang teman dari sekolah lain. Hari itu hujan rintik-rintik membasahi jalanan. Untung, yang lebih kecil dan tidak bisa melawan, melarikan diri dari anak-anak nakal yang memukulinya—berlari dengan napas tersengal hingga menemukan Dharsono.
"Saya dipukuli!" serunya panik.
Dharsono tidak bertanya panjang. Ia langsung mengejar para pelaku. Begitu melihat Dharsono datang dengan langkah cepat dan tatapan yang tidak mengenal kompromi, anak-anak itu kabur terbirit-birit. Salah seorang di antaranya, karena panik, tergelincir di lantai basah dan jatuh pingsan sebelum sempat dipukul. “Dia baru lihat Pak Dhar aja udah lari, tapi karena lantainya licin, malah kepleset sendiri. Langsung geblak, pingsan.”— Djunaedi, wawancara 7–8 Oktober 2023
Reputasi Dharsono sebagai pelindung tidak terbatas pada teman-teman sebayanya. Bahkan gurunya pun pernah merasakannya. Suatu hari di bangku Sekolah Rakyat, sang guru melempar penghapus ke arah Dharsono dan kemudian memukulnya dengan penggaris kayu sepanjang satu meter—mengiranya pelaku keributan yang sebenarnya dilakukan murid lain. Bagi hampir semua anak, menerima hukuman guru adalah akhir cerita. Bagi Dharsono, itu baru permulaan. Ketika sang guru berbalik, Dharsono mengambil penggaris itu dan membalasnya.
"Dia merasa kalau guru melakukan kesalahan, ya tidak bisa dibiarkan," cerita Djunaedi. "Dia berani membela diri. Karena dia tahu dia tidak salah." Akibatnya, Dharsono dikeluarkan dari sekolah—sebuah konsekuensi yang ia terima, tampaknya, tanpa penyesalan yang berlarut.
Sekolah dan Sawah: Mendidik Jiwa yang Tak Bisa Diam
Dharsono menyelesaikan Sekolah Rakyat pada 1952 dan melanjutkan ke SMP Kristen Salatiga yang beralamat di Jalan Sukowati, dekat alun-alun. Pilihan sekolah Kristen di kota yang mayoritas Muslim bukan hal yang aneh di Salatiga; sejak zaman kolonial, sejumlah yayasan Kristen mengelola sekolah-sekolah terbaik di kota itu, dan keluarga Prawiro Soemarto — yang pragmatis dalam soal pendidikan — memilih yang terbaik yang tersedia.5
Di SMP, karakter Dharsono tidak berubah, tetapi mulai mendapatkan wadah yang lebih terstruktur. Keberanian yang semula muncul sebagai reaksi spontan terhadap ketidakadilan kini mulai berkembang menjadi kepemimpinan—kemampuan untuk mengorganisir orang lain, untuk membuat keputusan, untuk menjadi titik acuan bagi teman-teman yang membutuhkan seseorang yang tidak akan bergeming ketika situasi menekan.
Di samping sekolah, ia membantu keluarga dengan bertani. Tembakau, jagung, sayuran—tanaman-tanaman yang membutuhkan kesabaran dan keterlibatan fisik setiap hari. "Pak Dhar di samping sekolah juga rajin bertani. Andalannya menanam tembakau, jagung, juga sayuran," kenang Djunaedi. Mungkin dari ladang itulah ia belajar sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah mana pun: bahwa hasil tidak datang seketika, bahwa tanah harus dikerjakan berulang-ulang sebelum ia memberikan apa yang diminta.
Pelari, Pemain Bola, dan Benih Prajurit
Jika ada satu hal yang paling jelas menunjukkan masa depan Dharsono, itu adalah tubuhnya. Tinggi, kuat, dengan stamina yang tidak kehabisan energi. Di desa Cebongan dan Randuwatir, ia dikenal sebagai salah satu motor penggerak kegiatan olahraga—baik atletik maupun sepak bola.
Dalam kenangan Djunaedi, bola yang mereka gunakan pada masa itu bukan bola sungguhan—melainkan jeruk Bali yang besar, dipukuli hingga empuk, dan kemudian ditendang dengan gembira di atas tanah lapang yang tidak rata. "Dulu main bola kecilnya kan bukan bola, tapi buah jeruk itu, tahu? Jeruk Bali yang besar itu, dieman dulu, lalu dipukuli sampai empuk. Jadilah itu bola main kami." Dari sanalah kebiasaan bermain sepak bola tumbuh—sebuah kebiasaan yang bertahan jauh hingga masa dinasnya di militer, saat kabar bahwa Dharsono dikontrak Persija sempat beredar di lingkungan rekan-rekannya.
Darah pelari juga mengalir dalam keluarga ini. Djunaedi sendiri adalah pelari, begitu pula Dharsono. Hingga awal 1960-an, jauh sebelum langit politik Indonesia digelapi oleh tragedi September 1965, nama keduanya sudah dikenal sebagai atlet pelari di kota Salatiga. "Tahun 1964, sebelum G30S/PKI, saya masih di SMA. Saya pelari Salatiga, dan Pak Dhar juga pelari. Kami sering ikut event di Salatiga," kenang Djunaedi.
Masyarakat desa, yang sudah mengenal Dharsono bertahun-tahun, agaknya tidak terlalu terkejut ketika ia kemudian memilih jalan sebagai tentara. "Waktu dengar dia keterima, orang-orang di kampung juga tidak terlalu heran. Sudah bisa ditebak. Ini anak yang memang pemberani," kata Djunaedi.
Keputusan Dharsono bergabung dengan militer bukan sekadar pilihan karier—ia adalah puncak logis dari karakter yang sudah terbentuk sejak ia belajar membela Untung di hari hujan itu, dan sejak ia mengambil penggaris dari tangan gurunya.
Dalam perspektif yang lebih luas, Dharsono adalah produk dari zamannya. Indonesia pasca-kemerdekaan adalah negara yang sedang mencari bentuk dirinya—berjuang mengusir Belanda yang tidak mau pergi, menumpas pemberontakan dari dalam, merebut wilayah yang masih dikuasai kolonialisme. Negara itu membutuhkan orang-orang yang tidak bisa diam melihat ketidakadilan, yang tubuhnya kuat dan yang pikirannya terlatih untuk mengambil keputusan di bawah tekanan. Dharsono, anak desa dari Cebongan, adalah persis seperti itu.
Foto
Bab 3
Petualangan Spiritual
Sembilan pemuda, sepeda onthel, dan perjalanan ziarah yang berbelok menjadi panggilan tentara.
Ada jalan hidup yang dibentuk oleh rencana, dan ada yang dibentuk oleh kebetulan. Jalan Dharsono menuju seragam prajurit adalah yang kedua. Ia tidak bermimpi menjadi tentara sejak kecil, tidak punya pamanda jenderal yang menginspirasi, tidak dibentuk oleh keluarga yang punya tradisi militer. Yang membawanya ke barak adalah sebuah perjalanan sepeda yang hampir gagal, beberapa amplop berisi uang dari orang asing, dan sebuah formulir yang ia isi di sela-sela mengamen di Surabaya.
Tetapi sebelum sampai pada formulir itu, ada kisah yang lebih panjang—kisah tentang pencarian spiritual seorang pemuda Jawa yang baru saja menyelesaikan SMP di kota yang identitas keagamaannya selalu berlapis: GPIB Tamansari di seberang alun-alun, masjid-masjid berdesain Jawa yang atapnya seperti caping petani, dan keyakinan populer yang tidak pernah bisa sepenuhnya dipisahkan antara Islam, mistisisme lokal, dan kepercayaan kepada kekuatan tempat-tempat tertentu.
Sembilan Pemuda dan Sepeda Onthel
Pada pertengahan 1956, setelah tamat SMP Kristen Salatiga, Dharsono bersama delapan teman sepermainan dan kakak sulungnya Goenadi memutuskan mengisi liburan dengan sesuatu yang tidak biasa: bersepeda onthel dari Salatiga untuk melakukan ziarah ke makam-makam Walisongo. Perjalanan seperti ini bukan sesuatu yang asing bagi pemuda Jawa Muslim pada masa itu—ziarah wali adalah bagian dari konstruksi identitas keagamaan yang hidup berdampingan dengan modernitas, sebuah cara untuk menghubungkan diri dengan akar spiritual sebelum melangkah ke dunia yang lebih besar.1
Tujuan pertama: makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, sekitar 250 kilometer dari Salatiga melalui rute Semarang–Pekalongan–Tegal. Kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati berdiri di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, di perbukitan yang disebut Astana Gunung Sembung—sekitar empat kilometer dari pusat kota Cirebon.
Di sinilah dimakamkan Syarif Hidayatullah, tokoh yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan wali penyebar Islam di Jawa yang dalam tradisi Jawa-Islam diyakini memiliki karomah yang terus mengalir bahkan setelah kepergiannya.2
Sunan Gunung Jati adalah sosok yang biografinya ditulis dengan mencampurkan fakta sejarah dengan legenda dengan cara yang tidak mudah dipisahkan. Setelah Samudera Pasai jatuh ke tangan Portugis pada 1521, ia melakukan perjalanan ke Mekah. Sekembalinya dari tanah suci, ia tidak kembali ke Pasai, melainkan menuju ke tanah Jawa. Di Demak, ia diterima dengan sangat baik oleh Sultan Trenggana, bahkan dinikahkan dengan adik sang sultan. Pertemuan ini melahirkan sebuah mandat besar bagi dirinya untuk mendirikan pemerintahan Islam di wilayah barat, tepatnya di Cirebon dan Banten. Langkah ini bukan sekadar misi keagamaan normatif; ini adalah sebuah proyek geopolitik terintegrasi yang berhasil mengubah total peta kekuasaan di Jawa Barat.
Sejarawan Belanda H.J. de Graaf, yang mengadopsi kajian kritis Prof. Hoesein Djajadiningrat dari Banten, menyebut bahwa Sunan Gunung Jati wafat sekitar tahun 1568 atau 1570 dalam usia yang sangat tua. Tokoh besar ini berpulang setelah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk aktivitas syiar Islam di sepanjang pesisir barat laut Jawa, membangun fondasi Kesultanan Cirebon dan Banten, serta memimpin perebutan pelabuhan-pelabuhan strategis dari kekuasaan Kerajaan Hindu Pajajaran.3
Di makam itulah Dharsono dan teman-temannya berdiri, melangitkan doa, dan mencari sesuatu yang mungkin tidak bisa mereka namakan dengan tepat—berkah, orientasi, atau sekadar rasa bahwa perjalanan ini bermakna. Dari Cirebon mereka bergerak ke Kudus dan Demak. Namun, sudah di Tegal, satu per satu anggota rombongan menyerah pada kelelahan dan memilih pulang. Dari sembilan orang yang berangkat, hanya tiga yang bertahan hingga Demak: Dharsono, kakak sulungnya Goenadi, dan seorang teman.
"Jadi start-nya itu dari Gunungjati. Awalnya kami berangkat dari Cebongan bersembilan, setelah selesai berziarah ke Gunung Jati itu, sebagian teman-teman tidak kuat dan pulang ke Cebongan," kenang Dharsono. Ia bercerita tentang hal ini dengan nada yang tidak dramatis—sebagai fakta perjalanan, bukan sebagai keluhan. Tipe orang yang terus berjalan ketika orang lain berhenti adalah tipe yang sudah terlihat dari sini.
Mereka melanjutkan ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Kabupaten Demak, lalu ke makam Sunan Muria di Gunung Muria, Kudus, dan kemudian bergerak ke timur mengikuti jalan Pantai Utara menuju Surabaya—untuk berziarah di makam Sunan Ampel. Di Surabaya, dua teman yang tersisa pun akhirnya memutuskan pulang. Dharsono dan Goenadi melanjutkan, berdua.
Amplop di Surabaya: Kebetulan yang Mengubah Segalanya
Di Surabaya, uang saku mereka hampir habis. Dharsono melakukan apa yang mungkin akan membuat keluarga priyayi di Salatiga merasa tidak nyaman jika tahu: ia mengamen. Di jalanan kota terbesar kedua Indonesia itu, anak lurah dari Cebongan yang baru saja menuntaskan ziarah wali, menyanyikan lagu-lagu demi beberapa sen.
Di sinilah peristiwa kecil itu terjadi—peristiwa yang kemudian terasa besar di kemudian hari. Seorang pria mendekatinya dan menyodorkan amplop. Syaratnya sederhana: Dharsono harus ikut ke rumahnya sebelum boleh membukanya. Dharsono menurut, dan di dalam rumah orang itu ia membuka amplop dengan "perasaan was-was dan penuh antisipasi," seperti yang ia kenang kemudian.
“Saya senang dan merasa lega sekali dengan "mukjizat" yang tak terduga-duga ini. Uang tersebut saya gunakan untuk makan dan minum selama berkelana di Kota Surabaya, sambil sisanya saya simpan untuk pegangan dan bekal saya.”— Kapten H. Dharsono, wawancara 7–8 Oktober 2023
Di dalam amplop ada uang yang cukup banyak—dan satu lembar lagi: formulir pendaftaran TNI Angkatan Darat. Orang itu menganjurkan agar Dharsono mendaftarkan diri. Dharsono tertarik, tetapi tidak langsung mengiyakan. Ada satu hal yang masih menggoda pikirannya: kemungkinan untuk mondok di Kediri, di sebuah pesantren tempat seorang teman sekampungnya belajar. Latar belakang pendidikannya yang seluruhnya di sekolah Kristen di Salatiga membuatnya merasa ada sesuatu yang belum terpenuhi dalam perjalanan spiritualnya.
"Saya sebenarnya sempat terpikir ingin mondok juga di sini, karena saya menamatkan SD dan SMP di Salatiga, kebanyakan sekolah di Salatiga itu dikelola oleh yayasan Kristen," kata Dharsono. Apakah ia akhirnya jadi mondok atau tidak, tidak ada catatan yang memastikan, dan pihak keluarga mengonfirmasi bahwa ia tidak pernah menjadi santri dalam arti resmi. Yang jelas, perjalanannya berlanjut bersama Goenadi—ke Gunung Kawi di Malang untuk melihat langsung tempat yang terkenal sebagai lokasi pesugihan, dan kemudian ke kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam di Imogiri, Bantul.
Peristiwa Imogiri dan Warisan yang Tak Diharapkan
Di Imogiri, sesuatu yang kecil terjadi: seseorang memberikan tiga buah Al-Quran kecil kepada mereka. Tidak ada penjelasan yang jelas tentang siapa orang itu atau apa maksud pemberiannya. Namun setelah kembali ke Cebongan, Goenadi mulai didatangi warga yang meminta pengobatan dan nasihat spiritual—seolah-olah ziarah itu telah mentransformasi dirinya menjadi orang yang diberkahi kemampuan supranatural.
Goenadi sendiri tidak merasa berubah sedikit pun. "Padahal, kakak saya itu tidak pernah merasa punya atau memiliki kelebihan di bidang supranatural semacam itu. Baik sebelum maupun sesudah ziarah ke Imogiri, kakak saya merasa tidak ada perubahan yang bersifat metafisis pada raga maupun rasa atau jiwanya. Tapi toh orang-orang tetap datang berduyun-duyun," kenang Dharsono dengan nada yang—jika dibaca dengan cermat—mengandung lebih banyak keheranan daripada kepercayaan.
Kisah yang lebih dramatis menyusul ketika ayah mereka, Prawiro Soemarto, setelah empat dekade menjabat lurah, memutuskan mundur dan mendorong Goenadi sebagai penggantinya. Goenadi tidak mau. Namun desakan warga, restu sang ayah, dan akhirnya tekanan dari Camat Tengaran membuat Goenadi tidak bisa mengelak. Ia terpilih dengan suara mayoritas dan menerima jabatan yang tidak ia minta.
Tiga hari kemudian, api menyala di rumahnya. Tidak semua yang terbakar—hanya lemari pakaian Goenadi, sementara perabot lain utuh. Seluruh Cebongan geger dengan spekulasi yang bermacam-macam. Kemudian seorang pria datang dalam kondisi sakit parah, dan terungkap bahwa dialah yang berusaha membakar rumah Goenadi secara supranatural, didorong rasa iri karena pemilihan lurah. Di luar dugaan semua orang, termasuk Dharsono, Goenadi tidak marah. Ia mengobati pria itu dan memaafkannya.
Dharsono tidak pernah berbicara panjang tentang keherananya atas tindakan kakaknya itu. Tapi peristiwa itu tampaknya membekas—tentang apa artinya kekuasaan, tentang bagaimana memimpin tanpa kehilangan kemanusiaan, dan tentang kenyataan bahwa keadilan tidak selalu berarti membalas. Pelajaran ini tidak langsung berguna, tetapi ia akan menemukan relevansinya bertahun-tahun kemudian, di medan-medan yang jauh lebih keras.
Mendaftar: Ajendam Semarang, Lawang Sewu
Tidak lama setelah peristiwa kebakaran di rumah Goenadi, Dharsono mengambil langkah yang menentukan: ia mendaftar menjadi prajurit TNI Angkatan Darat, mengikuti petunjuk orang yang pernah memberikan formulir kepadanya di Surabaya. Proses pendaftaran dimulai di Gedung Ajendam Diponegoro, Semarang—gedung yang kini lebih dikenal dengan nama Lawang Sewu, "seribu pintu," dengan arsitektur kolonial yang mengesankan dan sejarah kelamnya sebagai pusat penahanan dan eksekusi pada masa pendudukan Jepang.
Di sana ia mengisi formulir, menjalani serangkaian tes fisik dan psikologi, dan menunggu. Selang dua pekan, ia mendapat panggilan. Sesampainya di Ajendam, ia diberi seperangkat pakaian latihan dan diarahkan untuk bersiap-siap pergi ke Batujajar, Bandung—lokasi pendidikan Korps Komando Angkatan Darat, yang kelak dikenal sebagai RPKAD, cikal bakal Kopassus. Perjalanan hidup Dharsono memasuki babak yang tidak bisa lagi dibalik.4
Berita ini sampai ke Cebongan dan disambut dengan kebanggaan yang tulus. "Reaksi keluarga sangat membanggakan, karena pada waktu itu di sekitar kita belum ada yang menjadi tentara," ujar Djunaedi. Di desa kecil di kaki Merbabu itu, Dharsono menjadi yang pertama—orang pertama dari Cebongan yang memilih jalan militer. Bukan karena ia punya rencana besar sejak awal. Tetapi karena hidup, seperti yang ia temukan dalam perjalanan panjang dari Salatiga ke Surabaya dan kembali, sering kali memberikan jawaban bukan melalui mimpi yang kita kejar, melainkan melalui amplop yang disodorkan oleh orang asing di tepian jalan.